MAKALAH KBJ V : TEMBANG DOLANAN LAN BUDI PEKERTI
Tembang Dolanan Anak - Anak Berbahasa Jawa
Sumber Pembentukan Watak Dan Budi Pekerti
Yuyun Kartini, S.Pd.
Balai Bahasa Surabaya
Abstrak
Tembang dolanan anak berbahasa Jawa memiliki
nilai-nilai luhur budaya nasional. Namun sayangnya, tembang dolanan anak-anak
berbahasa Jawa pada saat ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah
maupun instansi terkait. Pada akhirnya anak-anak sekarang kurang mengenal
tembang dolanan Jawa sehingga tembang dolanan berbahasa Jawa ini kurang
diminati dan tergerus oleh zaman. Makalah ini akan memaparkan beberapa aspek
tentang makna teks yang tersirat dalam tembang dolanan anak berbahasa Jawa,
seperti nilai religius, nilai kebersamaan, nilai kemandirian, instropeksi, dan
kerendahan hati (tidak sombong) Dengan muatan beberapa aspek
tersebut secara tidak langsung tembang dolanan anak berbahasa Jawa menyimpan
beragam nilai luhur yang berakar pada budaya bangsa Indonesia khususnya Jawa.
Dalam upaya untuk membangun jatidiri dan karakter bangsa, tembang dolanan anak
berbahasa Jawa perlu dikenalkan kepada generasi muda khususnya anak-anak.
Mereka adalah pemegang tongkat estafet perjalanan kehidupan berbangsa dan
bernegara. Bila mereka kurang pemahaman dan pengalaman pada potensi seni budaya
bangsa dikhawatirkan kelak bangsa ini akan kehilangan jatidiri dan karakter
yang berbudi luhur.
Kata Kunci: tembang, dolanan, nilai religius,
kebersamaan, kebangasaan, estafet karakter.
1. Pengantar
Negara Indonesia merupakan negara yang terkenal kaya
akanl berbagai macam budaya dan kesenian. Kekayaan budaya dan kesenian yang
dimiliki bangsa Indonesia merupakan suatu kebanggaan dan aset bangsa. Semua
negara di dunia telah mengakui akan kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia .
Bahkan ada negara tetangga, seperti Malaysia berusaha merebut dan mengakui
salah satu kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai kebudayaan mereka.
Hal itu tidak boleh dibiarkan, jika ini terjadi maka bangsa Indonesia akan
kehilangan salah satu aset bangsa. Sebagai warga negara yang cinta dan peduli
akan kebudayaan tersebut, maka hendaknya selalu berusaha untuk menjaga dan
mempertahankannya. Oleh karena itu, warisan nenek moyang tersebut perlu
dilestarikan agar tidak punah tergerus oleh perkembangan zaman.
Perubahan dan perkembangan zaman terjadi semakin
pesat, hal ini ditandai dengan semakin canggihnya alat-alat elektronik yang
mengakibat terkikisnya kebudayaan warisan nenek moyang yang menyimpan
nilai-nilai luhur bangsa. Warisan kebudayaan tersebut meliputi bahasa,
adat-istiadat, dan kesenian daerah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa
kesenian daerah yang pada saat ini banyak yang hilang bahkan hampir punah.
Salah satu contoh kesenian daerah tersebut adalah tembang dolanan anak
berbahasa Jawa.
Tembang dolanan berbahasa Jawa merupakan sarana untuk
bersenang-senang dalam mengisi waktu luang dan juga sebagai sarana komunikasi
yang mengandung pesan mendidik. Contoh tembang dolanan yang dimaksud adalah
cublak-cublak suweng, jaranan, padang bulan, ilir-ilir, dan masih banyak lagi.
Tembang dolanan anak merupakan suatu hal yang menarik karena sesuai dengan
perkembangan jiwa anak yang masih suka bermain, didalamnya juga mengandung
ajaran-ajaran atau nilai-nilai moral budi pekerti. Dr. Suharko Kasaran, (Ketua
Komisi Nasional Budi Pekerti) mengatakan bahwa apabila anak kurang/tidak dibina
pendidikan budi pekerti sedini mungkin, pada umur 14 tahun anak itu akan
mengembangkan sikap destruktif (cenderung ke arah brutal). Kurangnya pembinaan
atau pedidikan budi pekerti dibuktikan banyaknya kejadian di usia remaja dan
dewasa atau tua seperti kenakalan remaja, tawuran massal, pelecehan seksual,
dan sebagainya (wawancara Buletin Siang RCTI, 11 Mei 1999).
Menurut Riyadi (dalam Djaka Lodang, 5 Agustus 1989)
memerinci sifat lagu dolanan anak-anak yaitu bersifat didaktis dan sosial.
Didaktis artinya lagu dolanan itu mengandung unsur pendidikan, baik yang
disampaikan secara langsung dalam lirik lagu atau disampaikan secara tersirat,
dengan berbagai perumpamaan atau analogi. Salah satu keahlian orang Jawa adalah
membuat berbagai ajaran dengan berbagai perumpamaan. Sosial artinya bahwa lagu
dolanan memiliki potensi untuk menjalin hubungan sosial anak dan menumbuhkan
sifat-sifat sosial.
Pada dasarnya lagu dolanan anak bersifat unik.
Artinya, berbeda dengan bentuk lagu/tembang Jawa yang lain. Menurut Danandjaja
(1985:19) lagu dolanan anak ada yang termasuk lisan Jawa, yaitu tergolong
nyanyian rakyat. Sarwono dkk (1995: 5) menjelaskan bahwa lagu dolanan memiliki
aturan, yaitu
1. bahasa sederhana,
2. cengkok sederhana,
3. jumlah baris terbatas,
4. berisi hal-hal yang selaras
dengan keadaan anak.

0 komentar:
Posting Komentar